Sahabatrakyat.com, Banyuasin – Di tengah hiruk-pikuk dunia digital yang sering kali mengaburkan nilai-nilai luhur kebangsaan, peringatan Hari Kesaktian Pancasila tahun ini membawa pesan yang berbeda. Bukan sekadar seremoni bendera atau pidato formal, melainkan sebuah renungan mendalam tentang bagaimana ideologi negara ini harus “bernafas” dalam keseharian umat beragama, khususnya di kalangan pesantren.
Ketua Umum Yayasan Pondok Pesantren Sabilul Hasanah, KH. M. Syarif Chumas As-Syawaly, S.Th.I, atau yang akrab disapa Gus Syarif, menyampaikan pernyataan tegas namun menyejukkan. Bagi beliau, kesaktian Pancasila tidak terletak pada kekuatan magis, melainkan pada kemampuannya menjadi payung teduh bagi keberagaman Indonesia.
“Pancasila itu sakti bukan karena mistis, tapi karena ia adil. Ia sakti karena mampu merangkul santri yang sedang ngaji, mahasiswa yang sedang demo, dan pedagang yang sedang mencari nafkah, dalam satu atap bernama Indonesia,” ujar Gus Syarif dalam keterangannya, Rabu (30/9/2026).
Gus Syarif menekankan bahwa bagi komunitas pesantren, Pancasila dan agama bukanlah dua entitas yang bertentangan, melainkan dua sisi dari mata uang yang sama. Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, adalah fondasi spiritual yang kuat, sementara empat sila lainnya adalah manifestasi sosial dari keimanan tersebut.
“Banyak yang bertanya, apakah santri perlu diajari Pancasila lagi? Jawabannya: sangat perlu. Tapi caranya bukan dengan menghafal butir-butirnya seperti robot, melainkan dengan memahami ruhnya. Ketika seorang santri menghormati teman yang berbeda suku, itulah Pancasila. Ketika ia menolak hoaks yang memecah belah, itulah Pancasila. Ketika ia berani membela kebenaran meski risikonya besar, itulah darah kesaktian Pancasila yang mengalir,” tambahnya dengan nada penuh penekanan.
Pernyataan Gus Syarif ini datang di momen yang tepat. Di era di mana polarisasi opini masih kerap terjadi di media sosial, pendekatan humanis dan religius seperti ini dinilai mampu menyentuh hati generasi muda. Ia mengajak seluruh elemen bangsa, khususnya kaum milenial dan Gen Z, untuk tidak melihat Pancasila sebagai warisan masa lalu yang kaku, melainkan sebagai kompas moral yang dinamis.
“Jangan biarkan Pancasila hanya hidup di dinding kelas atau di atas mimbar upacara. Bawa ia ke jalanan, ke pasar, ke kampus, dan ke media sosial kita. Jadikan ia sebagai filter sebelum kita berkomentar, dan sebagai motivasi sebelum kita bertindak. Itulah cara kita merawat ‘kesaktian’ itu agar tetap relevan hingga anak cucu kita nanti,” pungkas Gus Syarif.
Pesan singkat namun nendang dari Gus Syarif ini diharapkan dapat menjadi pengingat kolektif bahwa menjaga Pancasila adalah tugas setiap warga negara, tanpa terkecuali. Sebuah tugas yang dimulai dari kesadaran diri, diperkuat oleh iman, dan diwujudkan melalui aksi nyata yang memanusiakan manusia lain.
Selamat Hari Kesaktian Pancasila. Mari jadikan ideologi ini hidup, bukan sekadar simbol. (Rudi)








