SUMSEL,SahabatRakyat.com,- Rapat koordinasi pembaharuan data dan informasi luas bahan baku sawah di provinsi Sumatera Selatan yang di selenggarakan di Ballroom Hotel Swarna Palembang, Selasa (15/11/2022).
Rapat koordinasi ini dihadiri langsung oleh perwakilan 17 Kabupaten Kota Dinas Pertanian, Kantor ATR BPN Kabupaten Kota dan perwakilan dari kepala kantor wilayah ATR BPN Sumatera Selatan, serta turut dihadiri Dinas Kehutanan PBM, Kepala Bappeda Sumsel dan biro otonomi pemerintahan.
Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumatera Selatan Dr. Ir. H. R. Bambang Pramono M.Si mengatakan, Kegiatan hari ini rapat koordinasi pembaharuan data dan informasi luas lahan baku sawah provinsi Sumatera Selatan tahun 2022, dimana pada tahun 2020 dan 2021 sudah melakukan validasi pembaharuan luas lahan baku sawah.
“Ini tahun ketiga kita melakukan pembaharuan informasi data luas lahan baku sawah, di tahun 2022 luas lahan baku sawah Sumatera Selatan itu seluas 621.903 hektar, tetapi sejak dirilis oleh ATR per tanggal 17 Desember 2019 luas lahan baku sawah Sumatera Selatan berkurang menjadi 470.602 hektar. Jadi kita kehilangan 152.000 hektar, makanya 3 tahun terakhir ini mulai 2020 dan 2022 kita selalu melakukan validasi,” Ujarnya.
Bambang menjelaskan, Di tahun 2023 ini akan ada rilis dari ATR BPN terkait luas lahan baku sawah se-indonesia bukan hanya Sumatera Selatan. Di harapkan dari hasil kerja bersama semua stakeholder baik di provinsi maupun kabupaten bisa membuahkan hasil dan bisa menambah luas lahan baku sawah di tahun 2023.
“Kami menghimbau kepada masyarakat yang ada di Sumatera Selatan, saat ini sedang musim kemarau basah yang cukup tinggi curah hujannya, diharapkan tetap mengantisipasi terjadinya dampak perubahan iklim yang menyebabkan banjir dengan mengantisipasi, menyiapkan pompa-pompa agar terhindar dari bencana alam banjir serta melakukan koordinasi dengan petugas pertanian yang ada di Kabupaten kota. Kami juga menghimbau kepada petani untuk tetap melakukan aktivitas usaha tani,” Terangnya.
Lebih lanjut Bambang menuturkan, Saat ini Sumsel bertengger di posisi kelima penghasil beras, dengan sinergi semua pihak terutama 17 Kabupaten Kota, ATR BPN, Dinas Kehutanan dan BPS, bersinergi mengoptimalkan kondisi kurang beruntung dengan lahan rawa terluas di Indonesia.
“Dalam tiga tahun terakhir luas lahan baku sawah kita berkurang luas panennya karena ada genangan air atau curah hujan (kemarau basah), yang menyebabkan lahan rawa kita terutama Lebak bergeser luas tanamnya bahkan ada yang tidak tanam,” Tuturnya.
Langkah utama kita adalah menaikkan kembali luas lahan sawah, di tahun 2017 luas lahan baku sawah kita hanya berbeda sedikit dengan Sulawesi Selatan selisihnya hanya 24.000. Di tahun 2019 luas lahan baku sawah Sulawesi Selatan meningkat dari 645.000 hektar menjadi 654.000 hektar, sedangkan kita kehilangan 152.000 hektar.
“Makanya ini menjadi fokus perhatian pak Gubernur bagaimana kita yang mencapai produksi 5 juta ton di tahun 2017 GKG, sekarang ini berkisar antara 2,7 sampai dengan 3 juta ton karena lahan seluas 152.000 hektar itu yang tidak dicatat sebagai produksi, ini upaya-upaya dari kita,” Tutupnya. (Rudi).








