Sumsel.Sahabatrakyat.com, Palembang – Menjelang Hari Raya Idul Adha, stok sapi kurban di sejumlah kandang di Kota Palembang mulai menipis. Salah satu yang terdampak tingginya permintaan adalah Kandang Demang Farm, penyedia sapi Bali yang dikenal mengutamakan kualitas dan transparansi dalam penjualan.
Owner Demang Farm, Ahmad Zaki, mengungkapkan bahwa sejak awal tahun 2026 permintaan sapi terus meningkat. Bahkan, dari sekitar 200 ekor sapi yang didatangkan pada pertengahan Januari lalu, kini tersisa sekitar 50 ekor.
“Awalnya kita masuk sekitar 200 ekor, sekarang tinggal kurang lebih 50 ekor. Banyak yang sudah diambil pedagang maupun peternak langsung,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sapi yang tersedia di Demang Farm didominasi sapi Bali asli, bukan campuran. Untuk menjaga kepercayaan pembeli, setiap transaksi dilakukan dengan sistem penimbangan digital, sehingga harga benar-benar sesuai dengan bobot.
“Kita tidak pakai perkiraan. Semua ditimbang langsung secara digital supaya transparan dan tidak merugikan pembeli,” jelasnya.
Dari sisi harga, sapi dengan bobot 180 hingga 200 kilogram dibanderol sekitar Rp15 juta hingga Rp16 juta. Sementara untuk bobot 250 kilogram berada di kisaran Rp20 juta. Adapun sapi berukuran besar dengan bobot mencapai 600 kilogram dijual di kisaran Rp50 juta hingga Rp55 juta.
“Rata-rata tidak sampai Rp60 juta. Untuk bobot besar di atas 600 kilogram, itu sudah kategori premium, apalagi dengan pakan yang kita jaga kualitasnya,” tambahnya.
Selain kuantitas, Demang Farm juga menaruh perhatian besar pada kesehatan hewan. Seluruh sapi yang masuk kandang telah melalui pemeriksaan ketat, termasuk vaksinasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) serta pemberian obat cacing suntik, dengan pengawasan dokter hewan secara rutin.
“Kesehatan sapi jadi prioritas. Kita cek mulai dari kondisi fisik sampai kotorannya. Kalau ada yang tidak normal, langsung kita tangani bersama dokter,” ungkap Zaki.
Meski stok saat ini menipis, pihaknya memastikan ketersediaan sapi tetap terjaga hingga Idul Adha. Jika diperlukan, Demang Farm akan langsung mengambil sapi dari petani di Bali untuk menjaga kualitas sekaligus stabilitas harga.
“Kalau stok habis, kita ambil langsung dari petani di Bali, bukan dari penampungan. Selain kualitas lebih terjamin, ini juga membantu peternak di sana,” katanya.
Di tengah tingginya permintaan, Zaki juga mengingatkan pentingnya kejujuran dalam berjualan sapi kurban. Menurutnya, transparansi dalam bobot dan kualitas merupakan hal utama, mengingat pembelian sapi berkaitan dengan ibadah.
“Jangan ada tebak-tebakan atau menipu. Apalagi pembeli dari masjid, mereka ingin yang terbaik untuk kurban. Jadi harus benar-benar fair,” tegasnya.
Ia menambahkan, kualitas pakan juga menjadi faktor penting agar daging yang dihasilkan tetap baik dan tidak berair saat dipotong. Untuk itu, pihaknya mengikuti standar dan arahan dari dinas peternakan.
“Kami berusaha menjaga kualitas dari hulu ke hilir, supaya hasilnya tidak mengecewakan,” pungkasnya.(Rudi)








