Dr. Rety Septika Mencuat di Bursa Pilkada Musi Rawas 2030, Figur Perempuan Berbekal Rekam Jejak Akademik dan Organisasi

Musi Rawas – Nama Dr. Rety Septika, S.H., M.Kn., mulai diperbincangkan sebagai salah satu figur perempuan potensial yang digadang-gadang masuk dalam bursa bakal calon Bupati Musi Rawas pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2030 mendatang.

Berbekal latar belakang akademisi, praktisi hukum, serta pengalaman panjang dalam organisasi kemasyarakatan dan pemberdayaan perempuan, Rety dinilai memiliki modal kapasitas untuk ikut mengambil peran dalam pembangunan Kabupaten Musi Rawas ke depan.

Perempuan yang memiliki akar keluarga dari Muara Kati tersebut juga dikenal memiliki garis keturunan Pangeran Lakim. Ia merupakan putri pertama H. Nazarudin Hasan, tokoh hukum Sumatera Selatan yang pernah menjabat sebagai Ketua Persatuan Jaksa Indonesia (PJI) Sumsel.

Dari sisi pendidikan, Rety memiliki rekam jejak akademik yang membanggakan. Ia berhasil menuntaskan pendidikan Strata 1 (S1), Magister (S2), hingga meraih gelar Doktor Ilmu Hukum (S3) di Universitas Sriwijaya (Unsri), salah satu perguruan tinggi terkemuka di Sumatera Selatan.

Gelar doktor yang diraihnya pada April 2026 dengan predikat sangat memuaskan semakin memperkuat kapasitas intelektualnya, khususnya dalam bidang hukum.

Selain dikenal sebagai akademisi dan praktisi hukum, Rety juga aktif membangun jejaring melalui berbagai organisasi. Ia tercatat mengemban amanah sebagai Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Pemberdayaan Perempuan UMKM Indonesia (PPUMI) Sumatera Selatan dan Ketua Badan Komunikasi Masyarakat Musi Rawas (BKM).

Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan Rety dalam memperjuangkan pemberdayaan perempuan, pengembangan UMKM, serta memperkuat komunikasi dan hubungan sosial masyarakat.

Munculnya nama Rety dalam bursa potensial Pilkada Musi Rawas 2030 bukan tanpa alasan. Dalam sejumlah kesempatan, ia menyampaikan kesiapannya untuk maju dalam kontestasi politik daerah apabila mendapatkan dukungan dan kepercayaan masyarakat.

Dukungan keluarga juga menjadi salah satu pertimbangan penting. H. Nazarudin Hasan selaku ayahnya menyatakan memberikan restu apabila keinginan tersebut memang mendapat dukungan mayoritas masyarakat Musi Rawas.

Penilaian positif juga datang dari kalangan akademisi senior Universitas Sriwijaya, Prof. Dr. Febrian. Guru besar Fakultas Hukum Unsri tersebut menilai Rety memiliki kapasitas dan kelayakan untuk memimpin Kabupaten Musi Rawas.

Pandangan tersebut menjadi salah satu catatan menarik dalam perjalanan awal munculnya nama Rety di tengah dinamika figur-figur potensial yang diperkirakan meramaikan kontestasi politik Musi Rawas mendatang.

Meski Pilkada 2030 masih beberapa tahun lagi, kemunculan figur perempuan dengan latar belakang akademik, pengalaman profesional, dan aktivitas organisasi seperti Rety memberikan warna tersendiri bagi dinamika politik daerah.

Pada akhirnya, kelayakan seorang pemimpin tidak hanya diukur dari gelar akademik maupun latar belakang keluarga, tetapi juga dari integritas, kemampuan, kepedulian, serta keberpihakannya terhadap kepentingan masyarakat.

Bagi Dr. Rety Septika, peluang menuju Musi Rawas 2030 tentu masih merupakan perjalanan panjang. Namun, jika mendapatkan kepercayaan masyarakat, pengalaman dan kapasitas yang dimilikinya dapat menjadi bekal untuk ikut berkontribusi membangun Musi Rawas yang lebih maju, sejahtera, dan berdaya saing.(Rudi)