Sumsel.SahabatRakyat.com,- Pengurus Daerah (Pengda) Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) Sumatera Selatan (Sumsel) menggelar rapat koordinasi yang dihadiri oleh Ketua Harian Kagama Sumsel Dr. Jafrizal Ibnurudin, dan beberapa anggota Kagama Sumsel yang digelar di Rumah Puncak office bike cafe & gym (Steak Zone puncak) jalan Puncak Sekuning nomor 37 kelurahan 26 Ilir D.I Kecamatan Ilir Barat I Palembang, Minggu (26/11/2023).
Ada empat poin yang dibahas dalam rapat tersebut, diantaranya: Dalam rangka perencanaan Dies Natalis Kagama yang akan di selenggarakan pada bulan Desember mendatang, Persiapan pengesahan Pengurus Cabang (Pengcab) Kagama, Penggalangan dana untuk salah satu anggota Kagama Sumsel yang sedang mengalami kesulitan, dan Pengembangan lahan sawit plasma sebagai usaha bersama antar anggota Kagama Sumsel
Saat dibincangi awak media usai rapat Kagama Sumsel, Eldi Nuzan salah satu anggota Kagama Sumsel penggagas usaha Sawit Plasma menjelaskan pentingnya perusahaan atau badan usaha dalam organisasi, agar organisasi tersebut bisa berjalan karena organisasi itu membutuhkan biaya.
“Badan usaha kemarin yang kita bicarakan salah satunya dalam bentuk usaha sawit plasma, Kagama Sumsel ini berisikan orang-orang profesional yang mengerti pertanian, perkebunan dan juga perternakan. Kemudian juga ada pupuk yang jika disenergikan bisa menjadi sebuah badan yang beranggotakan orang-orang profesional ada didalamnya,” Ujar Eldi Nuzan yang merupakan Direktur Operational PT. Sampoerna Agro wilayah Sumatera.
Artinya, keuntungannya jelas karena ini merupakan usaha yang sangat prodebel, dan akan sangat menguntungkan secara pribadi, anggota serta pengurusnya ada dalam organisasi. Tentunya, hasil dari usaha tersebut sebagian bisa diberikan pada organisasi sertadengan adanya badan usaha tentu nantinya bisa bekerjasama dengan dunia luar
“Keuntungannya bukan hanya untuk organisasi atau pribadi tapi lebih luas lagi, jika kita bicara usaha harus memiliki syarat yang Pertama harus transparansi, Usaha yang dibentuk berdasarkan seperti apa, perencanaan dan keuangannya bagaimana karena ini melibatkan orang banyak, artinya secara finansial harus dikelola secara benar,” Ulasnya.
Sebagai gambaran, masyarakat sawit plasma yang dikelola pemerintah, mereka memiliki lahan 2 hektar saja sudah sejahtera. Artinya jika lahan yang dikelola itu lahan yang baik bukan lahan yang jelek, dalam skala marginal pasti menguntungkan. Petani menanam sawit pasti untung, apalagi dikelola secara organisasi dan secara managerial yang baik pasti mendapatkan keuntungan.
“Saya melihat dimana-mana organisasi itu butuh pembiayaan, kita tidak bisa selamanya tergantung kepada donatur, kapan organisasi itu berkembang. Dengan ada usaha ini bukan saja menguntungkan tapi ada wadah tempat kita bertemu, pasti orang lebih mudah terikat kalau dalam sebuah organisasi bisnis,” Pungkasnya. (Rudi).






