Sekjen KRASS Jadi Korban Represifitas Aparat Saat Suarakan Reforma Agraria di Demo

Palembang sahabatrakyat.com – Setelah Ribuan Aksi Demo Mahasiswa UIN Palembang, Forum Suara Mahasiswa, DPD, DPC GMNI, Universitas Muhammadiyah Palembang, yang mana tuntutannya sudah di tandatangani Ketua DPRD Provinsi Sumsel, Anita Noengherawati.

Kini giliran Organisasi Kepemudaan yang tergabung dalam Cipayung Plus diantaranya HMI, PMII, LMND, KMHDI, LMND, KAMMI, SEMMI, PII, AMI. Lakukan Aksi Demo yang di adakan Simpang lampu merah Jalan POM IX. Yang masih di hadang dan dipasang kawat berduri di jalan POM IX. Mahasiswa berorasi di simpang lampu merah Jalan POM IX. Senin (11/4/2022).

Di awal Organisasi Kepemudaan yang tergabung dalam Cipayung plus, demo memang sempat terjadi kerusuhan sejenak. Setelah kerusuhan tersebut berakhir dilanjutkan kembali orasi tuntutan mereka.

Salah satu mahasiswa Cipayung Plus mengatakan, ” Kita hanya ingin menyampaikan secara langsung aspirasi ke DPRD Provinsi Sumsel. Yang mana mereka meminta aksi demo mereka untuk masuk ke gedung DPRD tapi karena di halangi kawat berduri, sehingga mereka tidak bisa masuk ke gedung DPRD,” katanya.

Sementara itu, Sekjen KRASS eksekutif harian komite reforma agraria Sumsel menambahkan ,” Dia menjadi korban represifitas aparat saat ada kerusuhan. bahkan lebih dari tujuh orang melakukan represifitas terhadapnya. Saat akan membantu menyelamatkan saudara Fadhillah Amirullah merupakan pengurus BADKO HMI Sumbagsel, dari represifitas oknum aparat kepolisian,” tuturnya.

Lebih lanjut, Jadi sebenarnya yang terpenting itu adalah hari ini bukan saatnya lagi menghadapi demo-demo mahasiswa, menghadapi demo-demo masyarakat dengan cara-cara yang represifitas seperti itu.

” Kami minta hentikan cara-cara apa yang represif seperti itu. Masyarakat itu hanya butuh didengarkan terus ketemu dicari solusi keluarnya. Bukan disiram gas air mata ataupun apapun,” tandasnya.

Hal senada juga disampaikan oleh ketua umum Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) Sumatera Selatan, dirinya mengecam tindakan represif yang dilakukan oleh aparat kepolisian terhadap salah satu kadernya dimana hal tersebut merupakan sebuah tindakan pembungkaman hak-hak demokrasi dan kekerasan secara fisik dan mental karena itu hal ini akan kami tindaklanjuti keranah hukum.

“Saya mengecam keras tindakan represif itu terhadap kader kami, pasti kami akan tindak lanjuti hal ini ke meja hijau,” Ujar Firdaus Hasbullah.

Menurut pengakuan korban, kronologi kejadiannya ketika mulai adanya kericuhan ia melerai massa untuk mundur namun ketika massa maju malah ia yang di tarik secara tidak manusiawi, ia akan melaporkan kejadian ini kepada ombudsman dan propam polda sumsel, dan kasus ini akan saya bawa ke meja hijau jika pihak terkait tidak memiliki itikad baik.

“Ketika mulai kericuhan saya menenangkan massa agar tenang namun aparat kepolisian malah menarik saya hingga terjatuh, kami akan melapor ke ombudsman dan propam polda namun jika tidak adanya itikad baik maka saya akan melanjutkan ke meja hijau”, pungkasnya

Di tengah aksi demo Cipayung plus ada hal yang membuat aksi demo merasa sejuk, ada petugas membacakan Asmaul Husna. (Ocha)