Sahabatrakyat.com, Palembang – Di tengah kabut asap yang menyelimuti Kota Palembang dalam beberapa pekan terakhir, SMAN 14 Palembang mengambil langkah antisipatif dengan menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Kebijakan ini dilakukan untuk menjaga kesehatan siswa dan guru tanpa mengabaikan keberlangsungan proses belajar mengajar.
Wakil Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Waka Humas) SMAN 14 Palembang, Hefrin Noviandi, S.Pd., mengatakan keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan kondisi kualitas udara yang memburuk akibat kabut asap.
“Dalam kurun waktu hampir dua bulan ini, terutama satu bulan terakhir, kabut asap memang sangat tebal. Bahkan, indeks standar pencemar udara (ISPU) sempat berada di atas angka 200. Kondisi ini tentu menjadi perhatian serius karena kesehatan anak-anak harus kita utamakan,” ujar Hefrin.
Menurutnya, pelaksanaan PJJ dilakukan secara fleksibel dengan memanfaatkan berbagai platform pembelajaran digital, seperti google meet, google classroom, zoom, dan WA. Dengan cara ini, siswa tetap dapat mengikuti pelajaran dari rumah meskipun kondisi udara belum memungkinkan untuk belajar secara optimal di sekolah.
Hefrin menjelaskan, penerapan PJJ telah berlangsung secara bergantian selama hampir dua bulan. Sementara itu, sebagian siswa telah menjalani pembelajaran dari rumah secara lebih intensif selama lebih dari satu bulan terakhir.
Meski demikian, pihak sekolah tetap memberikan perhatian terhadap agenda akademik yang membutuhkan persiapan khusus, termasuk geladi Tes Kemampuan Akademik (TKA). Kegiatan tersebut dinilai penting agar siswa memahami teknis pelaksanaan ujian yang menjadi salah satu bagian dari evaluasi kemampuan akademik mereka.
“Kami berupaya menyeimbangkan keselamatan siswa dengan kebutuhan akademik. Geladi TKA tetap penting agar anak-anak memahami pelaksanaannya dan lebih siap menghadapi ujian sebenarnya,” jelasnya.
Hefrin mengungkapkan, hingga saat ini pihak sekolah belum menerima laporan mengenai siswa yang mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Namun, langkah antisipasi terus dilakukan dengan meminta siswa maupun guru yang mengalami gangguan kesehatan untuk tidak memaksakan diri datang ke sekolah.
Orang tua juga diberikan ruang untuk menyampaikan informasi kepada pihak sekolah apabila kondisi kesehatan anak tidak memungkinkan mengikuti pembelajaran secara langsung.
“Kalau anak sedang tidak sehat, kami tidak memaksakan mereka datang ke sekolah. Begitu juga guru yang sensitif terhadap asap atau mulai mengalami gangguan pernapasan, kami persilakan mengajar dari rumah. Prinsipnya, kesehatan tetap menjadi prioritas,” tegasnya.
Kebijakan tersebut menjadi bentuk kepedulian sekolah terhadap kondisi siswa dan tenaga pendidik di tengah situasi udara yang kurang sehat. Dengan fleksibilitas pembelajaran, kegiatan pendidikan diharapkan tetap berjalan tanpa mengabaikan keselamatan bersama.
Dari sisi pelaksanaan, Hefrin menyebutkan bahwa PJJ sejauh ini berjalan cukup baik. Meski terdapat tantangan dalam menjaga kedisiplinan dan keterlibatan siswa selama pembelajaran daring, guru tetap melakukan absensi serta memantau kehadiran siswa melalui platform yang digunakan.
Menurutnya, tantangan terbesar bukan terletak pada penggunaan teknologi, melainkan bagaimana memastikan siswa tetap fokus, disiplin, dan mengikuti pembelajaran dengan sungguh-sungguh meskipun berada di rumah.
Di tengah kondisi kabut asap, Hefrin juga mengingatkan para siswa agar menjaga kesehatan dan memanfaatkan waktu di rumah untuk belajar. Terlebih, ujian akhir semester dijadwalkan berlangsung pada November, sebelum pembagian rapor pada Desember mendatang.
Ia berharap siswa tidak menjadikan pembelajaran dari rumah sebagai alasan untuk mengurangi semangat belajar atau menghabiskan waktu dengan kegiatan yang kurang bermanfaat.
“Anak-anak harus tetap menjaga kesehatan, mengatur waktu, dan rajin belajar. Ujian semester sudah semakin dekat. Manfaatkan waktu di rumah untuk hal-hal yang positif dan jangan terlalu banyak bermain,” pesannya.
Hefrin menegaskan, sekolah akan terus menyesuaikan pelaksanaan pembelajaran dengan perkembangan kondisi udara dan kesehatan warga sekolah.
Baginya, pendidikan bukan hanya tentang mengejar target akademik, tetapi juga memastikan siswa dapat belajar dalam kondisi yang aman dan sehat.
Di tengah kabut asap yang membatasi aktivitas, SMAN 14 Palembang berupaya menjaga semangat belajar tetap menyala. Sebab, pendidikan harus terus berjalan, tetapi kesehatan siswa dan guru tidak boleh dikorbankan.(Rilis)









